Pagi
ini terasa dingin. Tanah masih menyisakan jejak-jejak sisa hujan malam tadi. Cuaca
seperti ini sesungguhnya tidak terlalu aku nikmati. Bagaimana tidak? Dengan suhu
yang menurun begini, aku sebenarnya lebih memilih menggelung diri daripada
harus menyiksa diri disini. Belum banyak sesuatu yang berarti yang bisa aku
nikmati.
Aku
tertawa miris dalam hati. Dan juga terus berpikir, mengapa aku bisa begini. Aku
kehilangan. Dan yang lebih tragis lagi, kehilangan jiwa sendiri. Dinding yang
berdiri kokoh ini seakan memberi sugesti, kau
tidak akan bisa mandiri. Aku langsung seperti manusia yang kehilangan destinasi.
Membuat hati mengkerut seakan ingin mati.
Aku
melemparkan visualku ke segala arah. Memperhatikan mereka semua yang sepertinya
terarah. Tidak sepertiku yang bersusah payah untuk tak menyerah. Pagi dingin begini,
serasa kian memperparah. Menyerahlah…kau
akan selalu kalah, bisik si setan bedebah.


