Thursday, November 8, 2012

Langit akan Tetap Biru

Kamu gak perlu jadi orang lain biar bisa dibilang kuat. Kamu juga gak perlu menjadi superhero biar bisa dibilang hebat. Karena Tuhan sudah memodalkan kamu kekuatan yang mahadahsyat. Hati kamu.

Kamu boleh sekarang ini bersedih, bahkan menangis hingga mata bengkak, hidung merah, pipi kuyu. Tapi ingat, hanya untuk sekali ini saja. Besok lusa kamu harus bisa tertawa lagi. Karena langit itu akan selalu biru. Meskipun sedetik yang lalu, yang kamu lihat diatas sana adalah badai. Ataupun seperhembusan nafas lalu yang kamu lihat adalah pelangi. Namun langit akan tetap biru dan selamanya biru.

tiranika
8 November 2012
12:56 AM 

Friday, November 2, 2012

Jika Hujan itu Masih Miliknya


Jika hujan sore ini masih miliknya…
Jangan biarkan hujan itu membuatmu kuyup.
Jika hujan sore ini masih miliknya lagi…
Yang baunya akan tetap terekam jelas meski sudah menjauh pergi
Jangan biarkan dirimu terhanyut dalam buaian bau itu.
Meski hujan rintik ini tetap miliknya…
Yang masih akan tetap bisa ditempuh oleh semua orang dan meninggalkan jejak-jejaknya.

Walau hujan ini masih selalu miliknya…
Jangan biarkan gemuruh yang ikut bersamanya membuatmu meragu.

Mendekatlah…
Karena banyak yang menawarimu payung untuk tempat berteduh.
Mendekatlah…
Karena ada banyak mantel yang tersedia untuk melindungimu dari terpaan hujan itu
Akan selalu ada yang menawarimu segelas minuman hangat untuk menghilangkan dingin hujan itu.

Dan jika hujan malam ini masih miliknya
Seperti katamu dulu, biarkan angin yang akan menghembuskan awan mendung itu menjauh
Dan membawa pesan agar ruang itu tak ada. Untuk orang lain, bahkan mungkin untukmu sendiri…

tiranika
2 November 2012

9:05 PM

Thursday, November 1, 2012

Istimewa

Kau bilang aku istimewa. Pada saat aku merasa, aku tak lebih dari anak yang aneh.
Kau tahu, saat kau mengatakan hal itu, aku sungguh-sungguh merasa istimewa.

Aku berbeda, itu yang kau katakan.
Pada saat aku merasa kerdil di tengah kehidupan ini, kata-katamu ibarat hujan di tengah musim kemarau panjang.

Aku bisa menaklukkan kehidupan ini. Begitu kata-katamu saat aku merasa putus asa.
Kau selalu hadir membesarkan hatiku. Di saat aku merasa tak ada kesempatan kedua, kau mengajari hal lain tentang makna "kesempatan".
Kesempatan kedua tak selamanya ada. Namun akan selalu ada kesempatan-kesempatan lainnya dari kehidupan ini.
Kau tahu, kata-katamu itu selalu aku lafalkan saat aku merasa jatuh.

Banyak hal yang kau ajarkan kepadaku agar aku menjalani hiudp ini secara lebih istimewa. Dan semua...terasa lebih mengagumkan saat aku mengerti  dan memahami makna lain dari 'berbeda' dan 'istimewa' itu. Aku mencintaimu...

*Naskah asli ditulis 22 Juni 2012

Sunday, October 7, 2012

Hidup Bukan Jalan Tol


Aku tidak tau, apakah aku yang berubah, sekitarku yang berubah atau kah saat ini memang berada pada titik-titik jenuh. Aku bingung, segala sesuatu yang ada disekitarku terasa salah, atau aku yang selalu salah.
Semua menjadi beban, semua terasa berat untuk aku jalani. Kehidupan yang selalu mampu aku hadapi dengan senyuman, perlahan mulai mengikis kekuatanku. Membuat aku seakan ingin menyerah saat ini juga. Aku bingung, semua yang terjadi membuat aku muak.
Aku benci, sungguh-sungguh benci. Karena setiap saat harus menghadapi tatapan sinis nan tak bersahabat itu. Mengerikan. Aku seakan-akan ingin berteriak, mencabik, memaki apa yang mereka suguhkan. Mereka kira, aku senang melihat tatapan itu?
Tidak! Bahkan aku bisa saja melawan. Membuat dia menyesal telah berani bertingkah seperti itu. Tapi mau bagaimana? Jika aku benar-benar melawan, aku yakin keadaan akan kian memburuk. Dan aku tak akan lebih baik dari mereka. Toh, aku juga tak kalah kekanakan dari mereka.
Aku akan bertoleransi. Tapi tidak untuk selamanya. Setiap manusia punya batas toleransinya untuk diri sendiri dan orang lain. Begitu pula aku. Jika keadaan sudah melewati batas yang telah aku tentukan, aku tidak akan segan-segan melawan!
Mungkin saat ini aku memang harus menyingkir dahulu. Menjauh dari hal yang selama ini aku jalani, sepertinya memang harus aku lakukan. Dengan begitu aku berharap semua kelak bisa kembali seperti sedia kala. Seperti saat aku selalu mampu berdiri tegak menghadapi hidupku.

Hidup bukan jalan tol. Akan ada lubang, tanjakan, jalan menurun bahkan jalanan rusak yang menghalangi. Tapi itulah hidup. Jika kita menjalaninya sungguh-sungguh, maka kita akan melihat gerbang keluar itu…

Bandung, 7 Oktober 2012

Sunday, September 30, 2012

Sehat Itu Penting


Sehat itu penting. Rata-rata dari kita baru akan benar-benar menyadari makna kalimat ini setelah sakit. Seberapa makmurnya kita, kalau tidak sehat, tetap saja hidupnya tidak bisa benar-benar ternikmati.

Saya saat ini sedang sakit. Tidak terlalu berat sebenarnya. Flu, yang menyebabkan bersin setiap saat dan akhirnya pusing berkepanjangan. Ini benar-benar mengganggu. Hidung meler, pernapasan terganggu, dan entah kenapa, detak jantung saya ikutan tidak normal. Eh, sepertinya hal terakhir itu gara-gara saya habis minum kopi.

Heran saja, kenapa saya bisa terkena flu. Biasanya saya akan terkena flu kalau kena panas berlebihan. Iya, panas. Bukan hujan atau dingin. Saya tidak ingat, apa ada panas-panasan beberapa hari terakhir ini. Tapi ya sudahlah. Musim saat ini memang sedang tak menentu.

Well,  saya harap teman-teman yang lain bisa menjaga kesehatan. Kalau tidak, akan seperti saya ini, kegiatan terganggu gara-gara sakit. Menyesal belakangan juga tidak ada gunanya. Sakit itu tidak enak, sekecil apa pun dia. Meski sekedar sakit kepala.
*night

Tuesday, July 24, 2012

A Letter


Dear my besties friend,
Maaf untuk kemarahanku kala itu. Saat itu aku kehilangan kendali atas diriku. Tapi sungguh, saat itu yang aku rasakan keterkejutan luar biasa atas kabar yang kau berikan. Hampir seminggu, dan kau baru mengabari kami. Itu pun setelah aku menanyakan perihal status kau yang cukup frontal.
Aku pribadi saat itu meresa sedih, bahkan kecewa berat terhadapmu. Iya, mungkin kami memang orang-orang pertama yang kau kabari setelah orangtuamu. Tapi…hei! Ini tak hanya sekedar urusan siapa yang pertama. Kau tahu persis bagaimana kami sebelum berita itu kau sampaikan.
Did you know what I’m feeling at that time? I feel like a fool. Kurang bodoh apalagi coba?! Status yang kalian pakai, sudah 'senada seirama'. Tapi kami tidak tahu apa-apa. Malah mencoba sok-sok menebak, alasanmu memasang status seperti itu. Sungguh, aku merasa seperti disuruh mencari buku yang aku tidak tahu seperti apa, padahal buku itu persis di depan mataku.
Apa sudah kau pikirkan, akibat dari keputusan besar yang kau ambil itu? Akan banyak pandangan miring terhadap kalian. Dan itu sangat mungkin terjadi. Aku saja sudah punya pemikiran kesana. Karena urusan ini sudah menjadi pelik sejak awal. Kau pasti tak tahu, bagaimana khawatirnya kami terhadapmu.
Sudahlah. Akhirnya kami memilih diam. Cuma untuk kau mengerti, bagaimana perasaan kami saat itu dan kami ingin melihat sikapmu selanjutnya. Maybe it’s not easy, cause I really disappointed with you. But our friendship is precious one.

Friday, July 13, 2012

Pagi Dingin


Pagi ini terasa dingin. Tanah masih menyisakan jejak-jejak sisa hujan malam tadi. Cuaca seperti ini sesungguhnya tidak terlalu aku nikmati. Bagaimana tidak? Dengan suhu yang menurun begini, aku sebenarnya lebih memilih menggelung diri daripada harus menyiksa diri disini. Belum banyak sesuatu yang berarti yang bisa aku nikmati.
Aku tertawa miris dalam hati. Dan juga terus berpikir, mengapa aku bisa begini. Aku kehilangan. Dan yang lebih tragis lagi, kehilangan jiwa sendiri. Dinding yang berdiri kokoh ini seakan memberi sugesti, kau tidak akan bisa mandiri. Aku langsung seperti manusia yang kehilangan destinasi. Membuat hati mengkerut seakan ingin mati.
Aku melemparkan visualku ke segala arah. Memperhatikan mereka semua yang sepertinya terarah. Tidak sepertiku yang bersusah payah untuk tak menyerah. Pagi dingin begini, serasa kian memperparah. Menyerahlah…kau akan selalu kalah, bisik si setan bedebah.